Hari ini adalah hari
dimana saya punya cerita dari 2 anak saya sekaligus. Cerita yang membuat saya
semakin bersyukur,semakin memahami arti kesabaran dimana saat ini saya sedang
menanti Si “JEDA” yang tak kunjung datang. hari ini Tuhan seakan menegur saya
melalui 2 anak saya.
1. Kisah Alfin Si anak malang yang ingin
menjadi Tentara
Namanya
Alfin setiawan,umurnya 9 tahun,seharusnya dia duduk dikelas 4SD.namun saat ini dia
duduk dikelas 1 dia tinggal kelas.saya mengenalnya Januari lalu,ya sekitar
9bulanan saya menjadi ibu bagi dia disekolah.mengenal anak ini butuh kesabaran
ekstraaa.dari awal dua rekan guru sudah sering memberitahu saya tentang
alfin.alfin belum lancar membaca dan menulis, hingga saat dikelas dua dengan
terpaksa saya tidak menaikinya ke kelas 3.perasaan bersalah dan berdosa kerap
mengahantui saya,hingga saat libur semester kemarin saya memberanikan diri
untuk mengunjungi rumahnya.sungguh miris,alfin adalah korban ke”egoisan”
orangtunya.sejak umur 5tahun orangtuanya berpisah, ayahnya pergi kejakarta,
ibunya pergi entah kemana dan hanya membawa adiknya alfin.alfin ditinggal
dengan neneknya yang sudah tua dirumah yang sangat sederhana yang beralaskan
tanah dan berdinding pagar .disanalah saya tahu cerita alfin, memang sebenanrnya
saya sudah tahu tentang asal usul alfin dan
keluarganya dari wali murid tapi saya ingin membuktikan sendiri apa
benar yang dikatakan oleh para wali murid.saat saya berkunjung kerumah
alfin,saya pun akhirnya percaya dengan cerita wali murid. alfin sering mencari
perhatian baik dirumah dan disekolah, jujur saya sering kesal dibuatnya hingaa
dada ini sesak dan nyaris putus asa.saya merasa belum berhasil membuat dia bisa
baca, saya merasa belum bisa menjadi pengajar yang baik untuknya hingga
berbagai cara saya coba . tapi kini Alhamdulillah,pelan tapi pasti sekarang
alfin mulai menunjukkan semangat belajar meski belum fix setidaknya ada arah
allfin untuk mau belajar. berbeda saat semester lalu,mungkin karena alfin malu
sudah 2X tinggal kelas. Saya sering menahan air mata jika mengingat anak
ini,anak yang mohon maaf kulitnya kasar,hitam,kukunya hitam dan tidak pernah
sarapan pagi ini.namun anak ini punya persediaan senyum yang tak terbatas, anak
ini sungguh manis.dua minggu lalu ayahnya pulang, tiap kali ayahnya pulang maka
saya selalu melihat binar yang cerah
dimatanya. tapi ibunya,ah.. entah kapan ibunya mau pulang bahkan saat saya
berkomunikasi dengan ibunya pun,ibunya belum tahu akan pulang menemui alfin
atau tidak. saya tidak tahu dan tidak mau tahu tentang masalah ibu dan ayahnya
alfin yang saya inginkana dalah tanggung jawab dari mereka berdua. hingga saat
saya tahu Fbnya ibunya dan saya liat semua foto2nya,hati saya sakit..sakittt
sekaliii.ibunya dengan berbagai gaya berselfie ria dengan berbagai pose.saya
kecewa dan nelangsa.sementara yang saya baca dari Fbnya,ibunya sudah punya
calon pendamping PUN dengan ayahnya
alfin yang saat pulang 1minggu yang lalu ternyata juga membawa wanita lain.saat
masuk kelas seusai bel istirahat, saya pun mengajak ngobrol alfin dibangkunya
dan inilah obrolan singkat saya dengan alfin.
Saya
: “Mamas,ibu sudah tau wajah ibunya mamas loh ternyata cantik ya mirip sama
alfin,alfin kangen ngga ?”
Alfin
: “Enggaaaa”
Deg..batin
saya.
Saya
:”loh nda boleh gitu,mama alfin pasti sayang alfin,mama sering sms ibu loh
nanyain alfin.nanti kalau mama pulang mama kerumah alfin ya,alfin mau kan
ketemu mama”
Alfin
:”Engga bu,aku ga mau”
Saya:”
Nda boleh gitu,memang alfin ngga kangen sama mama “
Alfin
:”Engga bu,aku ngga mau”
Saya
:”Tapi nanti kalau mama pulang mama bawa adiknya alfin juga nanti ada bapaknya
alfin juga,alfin pasti senang bisa bertemu dengan mama bapak dan adik dan bisa
bersama lagi”
Alfin
:” Engga bu,aku ngga mau aku mau sendiri
saja”
Deg..
( Saat itulah air mata yang dengan sekuat tenaga saya tahan akhirnya tumpaaaah).
Saya
pun menasihatinya agar dia tetap menjadi anak yang soleh dan mau bertemu dengan
ibunya meski alfin masih ketus, saya memakluminya mungkin itu perasaan
kecewanya,perasaan sedihnya. saat itu juga saya langsung memeluknya,air mata
ini langsung tumpah.yaa kali pertama
saya menangis didepan anak-anak saya.sampai ada anak saya berkata “Ibu kenapa
menangis” yang saya jawab bahwa saya
menagis bukan karena sedih tapi karena bahagia bisa ketemu alfin dan semua aank
kelas 2.
Saya
sedih,saya tak bisa membayangkan hari-hari alfin yang sendiri.bahkan saat tema
dua bulan lalu kebetulan saat itu tentang “Bermain ditempat wisata” saat saya
berkata kepada anak-anak “Kalian pernah pergi wisata kemana saja “ semua anak
menjawab pernah kepantai,kebun binatang dll. Namun alfin lah yang hanya
menjawab “Bu, saya belum pernah wisata.saya belum pernah kepantai,saya juga
tidak tahu kebun binatang”.
Dari
alfin saya belajar banyak hal, salah satunya ketangguhan. Dari bocah yang berumur
9 tahun itu, saya belajar apa itu kesabaran apa itu ketegaran.alfin yang setiap
hari menimba air dengan jarak yang lumayan jauh ,alfin yang tidak merasakan
kasih sayang utuh dari kedua orangtunya tapi dia punya ketegaran.darinya saya
belajar kasih sayang,darinya saya belajar bagaiman menjadi seorang ibu. mengingat
anak ini selalu membuat saya nelangsa.saat bangun pagi tak ada usapan
dikepala,tak ada pelukan atau hanya sekedar senyuman.saya tahu betul bagaimana
kehangatan kasih sayang dari orangtua.
Tapi
saya percaya suatu saat alfinku akan tumbuh menjadi anak yang memedulikan orang
lain.alfin yang dicap dan diberi label “Nakal” oleh orang-orang dan saudara2nya
kelak dia akan tumbuh menjadi orang yang jauh lebih tegar dan mempunyai hati.SEMOGA.
Hari
ini saya menangis karena cerita hidupnya tapi saya percaya suatu saat saya
tersenyum bangga karena prestasi dan akhlaknya.
Nak..Tetap
semangat yaa..ibu dan teman2 sayang alfin.
Ayoo..belajar
baca calon pak tentara J
2.. Kisah Barkah Dan lagu “Pergi Belajar “
Namanya
Barkah Wijaya, anakku dikelas 2 juga namun kisahnya berbeda dengan alfin.barkah
justru kebalikannya,dia mempunyai jutaan limpahan kasih sayang utuh dari kedua
orangtuanya. setelah saya menangis saat mengobrol dengan alfin,saya pun
menghapus air mata saya dan menetralkan suasana kelas. Kebetulan anak-anak
sudah selesai istirahat, sesuai dengan janji saya di hari sebelumnya bahwa hari
ini saya akan mengajak mereka bernyanyi lagi.minggu lalu kami sama-sama
menyanyi lagu “Menanam Jagung “ dan hari ini saya akan mengajak mereka
menyanyikan lagu “Pergi Belajar “.
“Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi sekolah sampaikan nanti
Selamat
belajar nak penuh semangat
Rajinlah
selalu tentau kau dapat
Hormati
gurumu sayangi teman
Itulah
tandanya kau murid budiman”
Saya
semangat sekali menyanyikan lagu tersebut hingga saya tak menyadari suatu hal
Gilang
:” Ibu, barkah nangis bu soalnya nama bapaknya disebutin kan nama bapaknya
barkah budiman bu “
Saya
:” hah sambil bengong “.
Daannn
ternyata terlambat barkah menangis karena dimas,yogi dan gilang berkata bahwa
ada nama bapaknya barkah dilagu tersebut ( Namanya juga anak-anak pasti
dikiranya menyebutkan nama orang tua seperti sedang mengejek ).
Asliii..saya
menahan tawa namun saya tahan, saya pun mendekati meja barkah yang sudah keburu
ngambek dan tak mau tersenyum meski dimas, yogi dan gilang meminta maaf. maka
saya pun langsung menjelaskan kepada anak-anak bahwa nama “Budiman” yang ada dalam lagu
tersebut bukan nama bapaknya barkah tapi maksudnya supaya kita disekolah jadi
anak yang baik,rajin belajar,hormat pada guru dan sayang teman serta agar kita
menjadi anak yang mempunyai sopan santun.
akhirnya
saya pun tak melanjutkan lagi menyanyinya hahaaaa…
Dari
barkah saya bisa tertawa (meski ditahan ), dari barkah saya belajar ternyata
saya harus lebih peka terhadap pandangan anak :D
Setidaknya
hari itu saya mengalami 2 hal : Menangis karena alfin dan tertawa karena Barkah
:D
Terimakasih
Tuhan untuk 2 kejadian yang Engkau beri pada hari ini J
NB
: Saya juga manusia biasa jadi wajar kan kalau saya ini mengeluarkan air
mata..Tapi bukan berarti saya cengeng loh.. CATET hehehe :p
Sekian..
#Terimakasih
yang sudah mampir baca semoga ada manfaat yang bisa diambil





