Assalamualaikum wr wb,,
Teman-teman aku sengaja menulis note ini,yg aku ambil dari majalah elfata.ada kisah yg membuatku tertarik dan ingin membaginya kepada kalian.selamat membaca dan semoga bermanfaat.
Bisnis itu pilihan
“Sejak kecil aku tinggal bersama ibuku,hidup kami seadanya tetapi ibuku selalu mengajarkan kapadaku agar tidak menyerah dan tetap bekerja.insya Allah ada rejeki,” begitulah curhat udin memulai kisahnya.
Udin memang bukan tergolong anak yang beruntung ketika kecil.semenjak bayi ia ditinggal merantau ayahnya ke tempat yang jauh.setiap pagi ia harus mengurus semua kebutuhan hidupnya sendiri karena sang ibu pergi kepasar mencari nafkah sehabis sholat subuh.selepas pulang sekolah ia membantu kakeknya menggembala kambing dan terkadang mencari rumput untuk makanan kambingnya.memang sedikit waktu bermainya tetapi pengalaman kerja ini menjadikan udin tumbuh sebagai pemuda mandiri dikemudian hari.
Bekerja kunci pertolongan
Adakah diantara kamu yg kesulitan membayar uang sekolah?jika jawabanya “iya” kamu punya kesamaan dgn udin.semenjak udin masuk SMA,Ibunya memang tak cukup biaya.tidak jarang ia harus kucing-kucingan dengan petugas sekolah.sempat ada niat mengajukan beasiswa tapi niat baik itu tak pernah disambut oleh pihak sekolah karena udin bukan siswa berprestasi.sering ia hanya menelan air ludah ketika temanya membeli barang baru atau ikut bimbingan belajar.
Akhirnya udin menemukan ide untuk mendapatkan uang melalui jualan buku.ia tidak langsung membeli buku melainkan hanya mengumpulkan katalog-katalog buku dari beberapa toko.katalog itu kemudian disusun rapi dan diedarkan di kelas-kelas.apa tujuanya?tujuanya adalah mencari pembeli buku.teman-temanya yg mau memesan buku,tinggal melingkari daftar buku yg dibeli.nah setelah itu` udin membelikanya ditoko buku.”Aku mendapatkan diskon 20-30% per buku,diskon itu adalah keuntunganku”,ungkap udin.selain melakukan usaha itu,udin juga menjadi buruh dikebun salah seorang tetangganya.ia membersihkan gulma yg tumbuh subur disekitar pohon salak tak jarang bersama ibunya ia harus memanggul pupuk kandang untuk disebar disekitar pohon salak.pekerjaan berat ini biasanya dilakukan selepas pulang sekolah atau ketika libur.malu dan bau bukanlah hal yg harus dipikirkan saat itu..uang dan uang adalah hal yg terbetik dlm pikiran saat itu.
Perjuangan udin tidak berhenti disitu,ketika malam dimusim kemarau tiba,ia merelakan tubuhnya untuk digigit rasa dingin,nyamuk dan takut.kenapa?ia menjadi petugas penjaga air di kebun-kebun salak milik tetangganya.meskipun Cuma dibayar 5ribu rupiah setiap malam,udin ikhlas melakoni pekerjaan itu meskipun harus belajar menggunakan cahaya lampu bara api.
Perjalanan menuju puncak
Setelah udin lulus SMA,ia melanjutkan pendidikanya di salah satu fakultas ternama UGM.Di universitas ini udin lagi-lagi bertemu dengan masalah uang.ia tidak memiliki cukup dana untuk membiayai kuliahnya,apalagi beli buku-buku tebal yg harganya ratusan ribu rupiah,terus apa yg terjadi?ia jualan buku lagi,tapi buku yg ia jual kali ini berbeda.ia menjual buku-buku khusus ujian masuk UGM (UM UGM).Bagaimana ceritanya?Udin bercerita “sebelum masuk kuliah,aku mengangkut buku ke tempat pendaftaran UM UGM.tak lupa kain kuselipkan diantara tumpukan buku sebagai alas jualan nantinya.tepat pukul 7pagi kubuka dagangan secara lesehan sambil menunggu waktu kuliah dimulai.terkadang malu kalo ada pembeli cewek,tapi mau gimana lagi,mungkin dari situ rejeki saya.” Sedikit demi sedikit keuntungan dari berjualan buku dapat digunakan untuk biaya operasional kuliah,meskipun ketika kuliah mata udin selalu ketap-ketip (baca:ngantuk).
Ditahun kedua,udin tak mau lagi sekedar berjualan buku.ia mengkoordinir teman-temanya untuk berjualan buku,tidak hanya itu ia juga turut andil dalam proses produksi buku.sibuknya kala itu sungguh luar biasa.sudah bisa ditebak bahwa hasilnya pun bertambah meskipun tidak seberapa.akan tetapi itu semua harus dibayar mahal karena udin kelelahan dan sakit,”setelah mengerjakan banyak hal,akhirnya aku sakit dan diopname 3hari dirumah sakit “,sesal udin.pekerjaan itu ternyata belum cukup menutup uang transport Pulang pergi kampus yg mencapai 40km.
Akhirnya udin pun menawarkan diri menjadi pengajar privat disalah satu lembaga bimbingan belajar.diterima!tapi sayang,jarak tempat udin mengajar dengan rumahnya cukup jauh sekitar 20 km.dengan gaji mepet,ia kembali muter otak.ia biasakan tidak jajan dan makan ditempat ia mengajar.pernah suatu ketika diomelin salah seorang siswa les,”kamu kesini Cuma mau makan ya,”kenang udin waktu itu.
Begitulah udin kecil yg kini telah menjadi sarjana dengan gelar Cumlaude.ia mengajarkan kepada kita bahwa usaha itu tidak harus diatas kursi empuk,naik mobil mewah dan tangan penuh dengan coretan pulpen.hidup memang penuh dengan perjuangan tapi jika mengeluh pada nasib maka nasib kita akan seperti itu terus.
Subhanalloh,,man jadda wa jadda,,Semoga cerita singkat ini berguna ya teman-teman.apapun yg terjadi dgn hidup kita,jgn pernah putus asa dan menyerah,,selalu ada Allah SWT Yg akan menolong kita.
Wassalamualaikum wr wb,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar