“Bola adalah mimpiku”, ucap seorang anak bernama Doni yang duduk
di kelas 5 SD. Doni adalah salah satu potret dari jutaan anak-anak
Indonesia yang mempunyai mimpi untuk menggenggam dunia dengan bola.
Masih banyak Doni – Doni yang lain yang mempunyai cita-cita tidak
hanya sekedar menjadi atlet sepak bola sehingga menjadi terkenal,
tidak juga sekedar menjadi atlet sepakbola karena mereka ingin
seperti Bambang Pamungkas, Andik Firmansyah, khristian Gonzales,
Ahmad Bustomi, Irfan Bachdim dll, tetapi karena mereka punya tujuan
dan niat yang sangat mulia ingin membanggakan kedua orangtua dan
tentu saja “Merah Putih”.
Ironis memang yang terjadi saat ini, dualisme yang tak pernah
mencapai kata mufakat untuk memajukan sepak bola di tanah air.
“Geram”, mungkin itu yang ada dibenak hati masyarakat pecinta
sepak bola Indonesia, bahkan piala AFF tahun ini pun bukannya lebih
baik dari 2 tahun lalu, malah sebaliknya, tahun ini timnas Indonesia
tidak menembus babak semifinal dan sudah diprediksi oleh beberapa
kalangan. Ini bukan salah pelatih atau pemain, mereka tidak salah
justru mereka hebat karena ditengah konflik yang terjadi dipihak
PSSI dan kKPSI mereka sangat berani dan semangat untuk timnas
garuda.lalu Siapa yang salah dan siapa yang benar?.
Masyarakat Indonesia hanya ingin semua bersatu, tak peduli apa itu
IPL dan ISL, apa itu PSSI dan KPSI, karena jika berbicara Timnas
Garuda dan sepakbola ditanah air, hanya peduli pada satu yaitu “MERAH
PUTIH”.
Jika Indonesia sampai terkena sanksi FIFA, maka siapa yang akan
bertanggungjawab? Seluruh masyarakat pasti terluka hatinya, karena
minimal 2 tahun Indonesia tidak bisa mengikuti tournament penting.
siapa yang salah? Jelas, tak ada yang mau disalahkan. Lalu bagaimana
dengan mimpi jutaan anak –anak Indonesia? Ini tak adil untuk
mereka. Percayalah, masih banyak pahlawan di negeri ini yang
mempunyai cita-cita mulia untuk mengharumkan bangsa ini. Salah satu
yang membuat rasa haru adalah ketika hadirnya pemain-pemain ke 12
yaitu supporter yang selalu setia datang ke stadion untuk memberi
dukungan ketika timnas bertanding ke negara lain, seperti contoh
ketika di Malaysia. Beberapa waktu lalu, para supporter Indonesia di
serang oleh sekelompok supporter Malaysia tapi mereka tak gentar
untuk memberi dukungan pada timnas Garuda. Sebagian dari supporter
adalah para TKI sang pahlawan devisa yang kurang diperhatikan
pemerintah, tapi mereka dengan semangat 45 tetap mendukung Merah
Putih dengan segenap cinta inilah yang disebut saudara sebangsa
setanah air.
Di negara Belgia dan Spanyol, ada beberapa anak-anak muda Indonesia
yang cemerlang seperti Syamsir Alam dan Arthur Irawan, mereka
cemerlang dinegara orang, miris memang karena bukan cemerlang
dinegara sendiri.
Menyatukan dualisme yang terjadi saat ini memang bukan hal mudah
namun tidak ada yang tidak mungkin jika para pihak-pihak yang
mempunyai wewenang dalam masalah ini mau membuka hati, pikiran dan
mau menerima aspirasi rakyat tentu bukan ego yang mereka utamakan.
Alangkah lucunya jika sampai kita terkena sanksi. Saatnya melakukan
perubahan untuk mewujudkan sepak bola yang sehat, jangan campur
adukan politik di dunia olah raga ini tidak ada kaitan sama sekali
dengan politik.
Hanya dunia olah ragalah yang dapat mempersatukan semua masyarakat
Indonesia tak peduli itu rakyat biasa atau pejabat bahkan presiden
sekalipun. Semua dapat duduk bersama berdampingan dan dengan lantang
berteriak “INDONESIA”, tanpa melihat perbeedaan yang ada. Jangan
pikirkan apa yang Negara berikan untuk kita, tapi lakukanlah yang
terbaik yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini.
Maju terus sepak bola Indonesia, jangan renggut mimpi mereka.






